Rabu, 17 April 2019

Memilih atau Dipilih #bukanpilpres

17 April 2019

Ini bukan soal pilpres. Bukan milih paslon yang mana. Bukan.
Memang hari ini bertepatan dengan pesta demokrasi. Semua berbondong bondong menuju tempat pemungutan suara.




Wait..
Abis ini mungkin agak lebay. Seterahlah. Bingung mau cerita ke siapa. Ngomong ke diri sendiri aja ga bisa bisa. Bego sendiri jadinya.

Jadi, benar hari ini kesadaran saya adalah mengiyakan bahwa semua orang akan datang ke TPS yang sudah ditunjuk. Dan kemelowan saya sedikit mengusik memory. Entah berapa tahun yang lalu, sempet bareng di satu TPS yang sama (oke, sampai sini udah ngerti kan, mau ngomongin apa) walaupun sepintas lalu.

Berhubung dalam 2 atau 1 tahun terakhir ada ketetapan hati yang sudah terkondisikan dengan tenang, aman, damai, sejahtera, namun ternyata semua itu "berbeda" dengan yang saya duga.

Saya tahu saya paham, saya sudah berada di titik " Oke, saya tidak akan memaksakan keadaan, karena memang segala sesuatu ada yg tidak bisa untuk dipaksakan. Saya juga sudah berada di titik TIDAK MAU BERHARAP PADA SIAPAPUN PADA APAPUN ITU"  Kalau toh hal ini dibilang salah, silahkan saja. Saya sudah cukup merasa lelah pada semuanya. Jadi saya bertahan hanya untuk menjalani hari saja.

Back to cerita, everything is normal. Tidak menunggu, menanti atau mencari cari. Sampai akhirnya, ada yang salah dengan jantung saya. Geblek. Kenapa nih? Pertanyaan bodoh yang sudah tahu jawabannya. Kan pengen memisuhi diri sendiri jadinya. Damn! Kenapa surat suaranya kayak kertas koran yak ...hehehehee
(ga nyambung kan? iya, otaknya juga sedang konslet ini)

Ternyata saya masih bodoh. Untuk urusan ini saya benar benar bodoh. Saya akui itu.
Udah tahu pisau itu tajem, masih aja mainan pisau. Udah tahu kepiris itu bisa berdarah, masih aja curi kesempatan ngiris. Kan GEBLEK!!

Ya, maafkan saya menodai pesta demokrasi dengan cacian untuk diri saya sendiri.
Yang bertekad baik baik saja, tapi ternyata ARE YOU OKAY???
Yang mantab "biasa aja", tapi ternyata "bisa biasa aja kagak?!!!"

Saya pengen terlahir kembali.
Tapi saya tahu saya punya hati yang tidak bisa saya kendalikan
Berada diantara ingin tapi tak ingin.

Lalu mencoba menata hati sekali lagi. Kembali logika berbicara, "tak perlu meminta, jika memang bukan menjadi yang utama"

Saat ini, merekalah yang utama.
Meski lirih sempat terlintas, bolehkah sedikit saja waktumu seperti dulu.
Namun entah berani menghilang dalam persembunyiannya.

Memilih untuk dipilih
Bukanlah jalan menuju hati yang sejati
Dipilih untuk memilih
Belum tentu menjadi tujuan abadi
Tentukan pilihan!
Adalah jawaban kemana hati sejati akan kembali menjadi kisah yang abadi

#pengencurhattapipastigabisangomongnya
#rindukuhanyadiam




Selasa, 16 April 2019

Infinity and Beyond - Psyche Excellent Training 2019


30 Maret 2019 

Infinity and Beyond menjadi tema yang di angkat dalam sesi sore hari kala itu. 
Sebuah tantangan baru, menjadi pembicara di kegiatan Psyche Excellent Training 2019.
"Konsep Diri" menjadi garis besar yang ingin digali dalam sesi ini.
Pembentukan konsep diri yang baik tentu saja akan menjadikan sebuah pola pikir yang berbeda.
Pelatihan yang diadakan SEMA Psikologi ini menjadi tugas saya sebagai pemateri tunggal.
Satu sesi yang cukup berkesan. Karena tema ini sebenarnya bukan yang pertama kali saya dapatkan, namun keterbatasan waktu dan informasi yang mencukupi membuat saya memutar otak. Apa yang harus saya sampaikan? Apa yang relevan dengan tema tersebut? Treatment apa lagi yang akan say berikan?

Tantangan lain adalah patner yang selalu memberikan briefing sebelum D Day, sedang bertugas negara sehingga mau tidak mau saya harus menghadapinya sendiri.

Well, semua akhirnya bisa terlaksana dengan aman. Meskipun pasti saya masih harus belajar lebih banyak lagi dalam improvisasi penyampaian materi yang diberikan. Begitu pula treatment yang diberikan pastilah ada yang harus dikoreksi atau dibenahi lagi. Namun saya percaya semua hal butuh proses, begitupula teman teman di Psycap kali ini.

Pola pikir baru harus diperbaharui dengan sudut pandang yang lebih luas lagi. Penerimaan diri yang positif menjadi jembatan untuk menuju Konsep Diri yang baru. Semoga apa yang saya sampaikan bisa berguna bagi teman teman Psycap 2019.

Salam Semangats 



Selasa, 02 April 2019

#jagaindonesialewatseni talkshow yang membumi namun kaya literasi

Selasa, 26 Maret 2019

Hari ini ada niatan pengen hadir di acara Fiskom bertajuk #jagaindonesialewatseni namun setengah pikiran ini sedikit terusik dengan kemampuan mobilitas yang cukup memeras keringat.
Yah, biasalah..tantangan terbesarku itu mobilitas. Selanjutnya ada teman atau pendamping yang menemani atau tidak. Yang ketiga nih, di poster tertera khusus mahasiswa/i Satya Wacana. Secara saya kan udah alumni yak...masih dibolehin masuk kagak (?)


Yang bikin excited lagi tuh bukan hanya performer yang bakalan tampil, tapi salah satu pembicaranya adalah mas Sam... a.k.a my Mentor of Training and Motivasi. Awalnya heboh sendiri bisa lihat mas Sam plus lihat performernya sekalian. Ada Glenn Fredly, EndahnRhesa dan Barry Likumahua. 
Mas Sam juga ngasih lampu ijo aja gitu buat dateng, tapi sempet ragu. Karena itu kayaknya acara intern khusus Fiskom. Belum lagi pas hari H saya belum daftar dan beli tiket (di poster tidak tertera, bahkan Gratis) ternyata kita hanya berdonasi saja untuk bisa masuk. 
Kapan lagi coba ada acara talkshow + performer artis ibukota hanya dengan berdonasi bagi korban bencana di Sentani coba...waahh keren deh konsepnya. 



w/ my mentor mas Sampoerna

Dalam diskusi ini dibahas mengenai bagaimana kita sebagai generasi millenial menjaga keutuhan negara. Di tengah situasi negara yang begitu memanas ini, tema #jagaindonesialewatsenidanbudaya menjadi sarana menyejukkan bagi para pemuda pemudi, akademisi maupun para musisi untuk menggalang persatuan demi keutuhan negara tercinta ini. 

Kata kata dari Barry yang juga membuat saya berpikir kembali "Kita lahir di Indonesia, tapi sudahkkah Indonesia lahir di hati kita?" Benar sekali. Sudahkah saya melakukan sesuatu untuk Indonesia?? Sepertinya belum. 
Pengalaman Endah n Rhesa yang berkeinginan go international, namun mendapati kenyataan tentang pendapat dari musisi dunia saat bertandang ke luar negri, kurang lebih maknanya " Jika ingin mendunia, maka mulailah dari yang lokal (lingkungan terdekat)" Tak heran jika kemudian Endah n Rhesa menggagas untuk membuat Song Writting club di daerah tempat tinggalnya sendiri yaitu Pamulang.
Glenn Fredly memaknai #jagaindonesialewatsenidanbudaya dengan mindset yang lebih mendalam. Kita diajak untuk tidak hanya menghargai karya musisi lokal, tapi juga berkaryalah dari daerah asalmu sendiri. "Sukses bukan berarti harus pergi ke Jakarta, karena sukses bisa dimulai dari diri kita sendiri terlebih dahulu" 

Ya, diskusi yang cukup bermakna di tengah gempuran hujatan dan hasutan memecah belah kesatuan negara ini sangat layak untuk digaungkan. Melalui musik semua lintas profesi, agama, suku, ras membaur tanpa sekat. Di sinilah kekuatan mempersatukan perbedaan yang ada menjadi sebuat persatuan yang mengokohkan kebhinekaan tunggal ika di Indonesia.

So, saya sangat sangat sangat bersyukur bisa menyaksikan acara #jagaindonesialewatsenidanudaya ini meskipun sebenarnya ada perjuangan saat menuju ke tempat acara, tapi ternyata terbayar lunas dengan "wacana dan performa" yang begitu MAHAL.

Terimakasih semua pihak yang terlibat, lanjutkan semangat ini hingga ke ujung Sabang Merauke harus mendengar pesan terdalam ini. SEMANGAT!!




dok pribadi 

Selasa, 01 Januari 2019

2018 - Menemukan, melepaskan dan kehilangan

Di postingan sebelumnya banyak kenangan manis tertoreh di 2018. 
Namun, di akhir 2018 justru kabar duka datang beruntun tak terduga.

Ya, di sini bukan maksud hati membuka kesedihan kembali, bukan pula ingin berlarut dalam duka. Hanya saja, sepenggal kisah yang pernah terukir manis bersama mereka, layak untuk tidak di lupakan. 

Eunike Celia Hapsari
Pertengahan bulan November 2018, mendengar kabar Ike opname di Rumah Sakit. Memang bukan yang pertama kudengar, namun sepertinya cukup mengkhawatirkan. Sakit kanker yang di deritanya sejak 3 atau 4 tahun yang lalu (maaf kalau salah..silahkan koreksi.) kambuh kembali. Sangat mengejutkan memang, karena selama menjalani kemoterapi tampak baik baik saja. Dan kabarnya sudah dinyatakan sembuh. 

Sebenarnya aku sudah lama mengenal Ike. Kakaknya adalah sahabatku sejak SD hingga sekarang. Banyak moment yang membuat kami sering bertemu. Kita satu sekolah saat SMA. Dulu, aku juga sering diminta menyanyi di Gerejanya. 
Dimana ada kegiatan musik Ike juga selalu diikutsertakan. Iya, suara Ike memang bagus, begitu halus dan penuh penghayatan setiap kali dia bernyanyi. Yang aku tahu, Ike adalah pribadi yang ramah pada semua orang. 

4 tahun yang lalu, Ike sempat membantu menjadi tutor di Rumah Belajar Gobooks. Dengan anak-anak pun dia gemati, sabar dan telaten. Sayang, Ike hanya sebentar di Gobooks, karna dia mendapat pekerjaan di Semarang. 
Waktu hari pernikahan Ike, aku ada di sana. Masih ingat samar samar, dia begitu manis dengan gaun putihnya. Dan sekarang putranya sudah berumur 5 thn (koreksi jika keliru.). 

Jujur, bagiku Ike itu bukan orang lain. Meskipun benar, kami bertetangga. Tidak ada hubungan darah sama sekali. Tetapi ketika hari Sabtu sore waktu itu, salah satu Tutor Gobooks Lea menelepon memberitahukan bahwa Ike sudah berpulang, entah kenapa rasanya seperti kehilangan sesuatu yang begitu dekat. Aku dan Lea tak kuasa menahan tangis. Sore itu juga aku menunggu kedatangan jenazah di gereja. Di satu sisi aku ikut merasakan sedihnya, di satu sisi aku bingung harus berbuat apa. Hanya bisa duduk mengamati sekitar. 

Bahkan hingga malam sampai keesokan harinya aku tidak berani menatap keluarga yang lain. Aku takut, aku tak kuasa menahan sedih di hadapan mereka. Ketika ku beranikan diri bertemu dengan tante, dan om lalu melihat Ike di dalam peti, aku tidak berani berlama - lama. 
Aku takut menghampiri kamu, Nyeee. Tidak berani, walau sebenarnya sangat ingin mengucapkan turut bersedih dan berada di dekatmu. Tapi urung, aku takut menambah kesedihan. 

Saat berada di rumah, aku berpikir, iya..aku juga anak bungsu, aku juga satu satunya anak perempuan yang di miliki Bapak Ibu. Jika itu terjadi padaku, apakah mereka akan sesedih itu? Seperti yangaku tulis di atas, aku dan Ike tidak memiliki hubungan darah. Tapi dibilang jauh, tidak juga. Dibilang dekat, tidak juga. Lalu kenapa sedihku ini berat. Apakah mungkin aku tidak tega melihat tante? Usia ibu dan tante sama, jika saja ibu masih sehat dan mengalami hal yang sama, apakah akan seperti itu jika aku pergi duluan ya? 

Aku berharap tante tidak berlarut dalam kesedihan. Aku harap 2 putranya selalu menemani secara lahir batin. Semoga hal yang terjadi pada ibuku dulu tidak terulang. Karna kesepian ditinggal cucu cucunya,dan  anak-anaknya tidak pernah di rumah. Ketahuilah seorang ibu itu pandai menyembunyikan sedih dan sepinya. Kita yang ada di dekatnya sudah berkewajiban mendampingi menemaninya. Ya kan??

Belum reda kesedihan kehilangan seorang adik. 2 minggu kemudian mendapat kabar bahwa suami dari sepupuku Sulih, juga berpulang. Padahal kami sedang berencana untuk kembali menengok.untuk yang kesekian kalinya. Ternyata Tuhan berkendak lain. Sakit kanker darah selama 3 bulan telah di diagnosa dokter. Begitu cepat sehingga banyak yang tidak menyangka. 

Masih jelas teringat ketika mereka pertama kali bertemu 6 tahun yang lalu. Di tempat biasa dimana aku sering datangi kala itu, TDB. Mereka menikah dan dikaruniai kembar Banyu dan Bening. Tak kuasa aku melihat kembar yang masih 5 tahun menanyakan papanya. Namun, kenyataan sekali lagi memiliki kuasaNya. 

Yan Pambudi Ilmi 
Yang lebih membuatku kaget adalah tentang nama. Sepupuku mengatakan bahwa nama yang tertera di akte kelahiran adalah Yan. Padahal selama ini ku mengenal dengan nama Ryan. Entahlah.. apa yang ada dipikiranku. Spechless, tidak bisa berkata apa apa. 

Ke depan aku berharap Sulih dan kembar mampu menjalani kehidupannya dengan baik. Ikhlas kepada yang di atas. Berserah tanpa menyerah. Berjuang dengan semangat. Karna Tuhan selalu ada.

Belum sampai di situ. Seminggu kemudian kabar duka kembali datang. Mbahmbok aku memanggilnya, berpulang. Sesalku satu, hari itu aku lewat depan warungnya, dan bertanya tanya kenapa sepi, tutup? Dan lewat begitu saja tanpa melihat masuk ke dalam. Ternyata sore harinya mbahmbok sedo. 

Mbahmbok Srimah 
Mbahmbok adalah kakak dari mbah Uti, Ibunya Ibu. Sangat dekat dengan semua anak, cucu, cicitnya. Sangat sayang pada semuanya. Mbahmbok meninggal karna usianya sudah 90an. Hanya bisa tiduran beberapa bulan belakangan ini. 

Ketika aku melihat wajah mbahmbok, tampak mirip sekali dengan mbah Uti, lalu mirip Ibu. Deg! Hatiku tergetar. Aku hanya terdiam. Tidak berani mengatakan apa apa. 

Semua saudara berduka. Semua kehilangan. 

Tulisan ini bukan untuk mencari empati, simpati, malinkan ingin berbagi nilai dari sebuah kehilangan. 
Setiap orang kelak akan kehilangan. Baik itu orang terkasih, benda kesayangan, hewan peliharaan dll.
 
Namun tidak semua orang akan merasakan kehilangan. Mengapa?
Sebab mereka tidak pernah menemukan. 
Mereka tidak menemukan nilai yang berharga dari orang orang yang meninggalkan mereka.
Mereka tidak menemukan arti tiap kehadiran dari orang terdekatnya.
Mereka tidak menemukan rasa nyaman dalam pelukan seseorang di hadapannya.
Mereka tidak menemukan waktu yang berharga yang dihabiskan untuk sekedar menemani. 
Mereka tidak menemukan cinta dan kasih sayang dari kehadirannya.

Maka tak perlu hubungan darah untuk menemukan itu semua. 
Sebab arti dari kehadiran sesorang adalah penopang segala resah, gundah dan kesepian.  

Pertanyaannya?
Sudahkah kita hadir untuk mereka yang terkasih?
Yang mungkin merindukan tanpa berani mengatakan

Tahun 2018, menjadi tahun yang membuatku tersadar,
Ketika ku menemukanmu saat itu, ternyata hatiku sedang menemukan arti melepaskan. 
Cepat atau lambat, kita yang akan meninggalkan lebih dulu atau justru ditinggalkan lebih dulu. 
Mengingat peristiwa duka yang beruntun ini tak bisa di pungkiri, kelak kita harus bisa melepaskan. 
Entah untuk melepaskan kepergian selamanya atau 
Melepaskan apa yang tidak bisa dipaksakan. 

Saat ini siapku untuk melepas apa yang tak bisa dipaksakan.
Jadi jangan memaksaku melepasmu dalam hal lain. Ku tak sanggup. 

Jika kamu membaca tulisan ini.
Mengertilah, aku hanya menemukan arti hadirmu. 
Mengertilah, diri merindu waktu untuk bersama.
Hanya itu...

Jika kamu membaca tulisan ini
Bolehkah ku bertanya apa artiku bagimu?
Bolehkan bagi waktumu sedetik saja, nanti saat terpurukku?
Agar ku bangkit melalui pelukanmu. 

Jika kamu membaca tulisan ini
Nyanyikan senandung hatimu untukku
Hampiriku melantunkan kerinduan tersembunyiku
Itu saja...

010119






Senin, 31 Desember 2018

2018 - best moments

2018 merupakan tahun yang sangat unpredictable...
why? Banyak moment yang begitu berkesan namun juga menyesakkan.

Di postingan sebelumnya, http://omahpena.blogspot.com/search?updated-max=2018-12-31T23:12:00-08:00&max-results=7 sepertinya masih berada di zona yang sama. Meskipun terbaca sedang perlahan untuk pasrah tapi sebenarnya...kisahnya masih di tempat yang sama.

Dan kini, di penghujung tahun 2018 ini, baru tersadar bahwa banyak sekali hal di luar kendali terjadi.
Di luar zona yang selama ini masih ku anggap sebagai akar dari 'ganjalan hati' yang tersembunyi rapi di dalam relung terdalam. Yang terkadang masih sering kali muncul, tanpa pernah kuakui...ah..bukan, lebih tepatnya takut untuk kuakui kebenarannya.

Ada perubahan besar dalam batin ini ketika awal tahun 2018. Entah apa,
Seperti ada kerinduan yang cukup besar untuk berserah padaNya. Seperti tidak ingin mengharapkan apapun dari siapapun kecuali kuasaNya. Tidak mau berprasangka apapun pada siapapun. mungkin seperti itu jika dilihat dari sudut pandang dengan prasangka baik. Namun, sebaliknya...aku seperti merasa kosong, tidak ingin melakukan apa-apa. Tidak berpengharapan apapun. Tidak memiliki keinginan apapun. Tidak merindukan siapapun. Hati ini seperti mati rasa.

Lalu, diri mencoba menepi, menelusuri kembali apa yang sudah terlewati. Apa yang sebenarnya diingini. Ahh...apakah selama ini hanya AKU yang bergejolak setiap harinya? Sehingga kecewa ini begitu besar, sakit ini begitu perih, patahan ini begitu rusak sampai berkeping - keping. Ya, mungkin itulah sebabnya, semua karena AKU.

Sadar diri ketemui, barulah mencoba merubah bukan lagi berpusat AKU, namun KAMU, DIA, MEREKA, KALIAN, KITA...
Tak lagi berpusat pada apa yang aku ingini, melainkan apa yang mereka ingini.
Bukan lagi apa yang membuatku BAHAGIA, melainkan apa yang bisa memBAHAGIAkan kita.

Pelan tetapi pasti, perubahan diri baik batin dan lahir mulai terasa.
Hari hari yang tadinya terasa begitu menjenuhkan, kini bergulir cukup menyenangkan.



Iyaaa, mulai dari...


Kegiatan bersama Adaptive, yang sempat vacum beberapa waktu, mulai ada lagi. Ada kesempatan menempa ilmu kehidupan kembali bersama mas Sam dan tim. 

 

Ternyata 2018 ada moment bertemu denganmu yah...my bestie @fisskiss... Teman, sahabat, yang sudah seperti keluarga. Yang selalu aku repotin, yang selalu nyempetin ke rumah kalau pas mudik, yang selalu jadi triger aku tiap kali amunisi yang ada di dalem sini stoknya mau abis hehehehee... Sehat selalu, sampai kita bertemu di tahun tahun berikutnyaaaa


 Berkah Nya selalu tercurah... Ini salah satunya. Ketika ibu sudah harus duduk di kursi roda,sekarang bisa jadi kereta keretaan kalau pergi ke mall. Hehehee...
Ponakan yang paling kecil, lumayan memberikan penghiburan bagi Bapak. Meskipun tiap pulang nggak bisa lama. Tapi tetap disyukuri. Karena keadaan sekarang sudah jauh lebih baik dibandingkan 4thn yang lalu. Cukup Tuhan yang tahu bagaimana perjuanganku dan Bapak.


 Kembali pada kegiatan Adaptive bersama tim. Sebenarnya kegiatan ini selain memberikanku kesibukan, juga menjadi tempatku untuk merecharge semangat hidupku. Ketika berbagi kisah, pengalaman, di situlah kutemukan arti saling menguatkan. Memang iya, aku masih harus banyak belajar lagi. Masih ada perbaikan di sana sini. Maka, moment bersama Adaptive adalah moment yang selalu kurindukan. Bertemu, belajar, juga berkarya.

with Riyanaaa
Hari hari selanjutnya dipenuhi merekaaa... ajan, pihnit tipis tipis a.k.a selonjoran di teras. Bersama keluarga besar Gobooks.


Tahun 2018, juga menjadi istimewa karena lahirlah buku antologi yang berjudul Rumpun Kisah. Bersama dua perempuan pejuang rindu Eva Yunita dan Bidara Riani kami bertiga selesai menyelesaikan kumpulan pusi dan cerpen yang digarap sejak setengah tahun sebelumnya. Cukup menjadi amunisi untuk tahun 2019 nanti. 


Bulan puasa 2018 juga penuh dengan kebersamaan. Ini sebagian dari keseruan tersebut. Bertemu dengan sepupu sepupu yang merindu akan kehang-outan yang haqiqi ya kan?? 


 2018 juga ada yang mengejutkan. Salah satu tim Adaptive, ibu peri...berubah menjadi bu Polwan. Waahh...surprise nya nggak tanggung - tanggung ya, langsung masuk aja gitu. Gud job deh cyiinnn..

tim Adaptive

Lebaran alhamdulillah bisa kumpul, walaupun hanya sebentar. Yah, tetep disyukuri saja ya. Meskipun dalam hati bertanya tanya, kapan semua bisa tidur di rumah bareng, kruntelan, uyel2an jadi satu rumah. Nggak mencar mencar cari KENYAMANAN sendiri sendiri. Ups...udah nggak usah diterusin omongan dalam hatinya ya, nanti malah meluberr terus duuueerrr!!

lebaran 2018
Hmm...reuni SMA N 1 Ambarawa juga terlaksana di 2018. Moment yang menyenangkan. Bertemu dengan teman lama. Silahturahmi dengan bapak ibu guru juga. Angkatan yang layak mendapat 5 jempol. Panitia serta semua pihak yang terlibat hingga terwujudnya reuni ini benar benar the best. Sebenarnya ada kurangnya...kurang lamaaaaa acaranyaaaa. 
Dan kata kata yang jadi tagline di acara ini juga sangat 'ngena' APAPUN WARNAMU SEKARANG, DULU KITA HANYALAH PUTIH ABU ABU.
180618
Dan ada sesuatu hal yang cukup membuatku tersadar akan sesuatu. Apa yang kupasrahakan padaNya adalah apa yang menjadi kehendakNya. Sekian lama mencoba bersembunyi dari luka dan kecewa karena pengharapan diri. Ternyata hati ini kembali pada kelegaan yang besar. Pertemuan yang terjadi di luar kendali diri adalah jawaban seberapa besar rencana indahMu itu menjadi nyata. Dan aku masih percaya. Percaya bahwa kelak akan indah, kelak akan mendamaikan, kelak akan sangat berharga untuk dimiliki. Dari inilah kemantapanku menjalani hari dengan ringan semakin terasa. KuasaMu adalah Nyata. 

Berbagai moment berharga di 2018.




 

Wisata bersama gobooks terlaksana juga di akhir april 2018. Kebersamaan yang menyenangkan yaaa








momon's wedding






















Pertama kali ikut wisata ke bromo. Seru tapi juga menegangkan. Di sinilah diperlihatkan lagi jika Tuhan masih mengijinkanku meminjam oksigenNya. Mobil yg ditumpangi hampir saja masuk jurang. Tuhan masih melindungiku dan bapak. Masih bisa menuliskan kisah ini sekarang. Entah apa yg terjadi jika tidak ada mobil yang ada dibelakangnya. Sekali lagi syukur alhamdulillah.



Dipercaya untuk mengisi kegiatan PPA di gereja Sumowono. Terima kasih atas kepercayaannya, himgga 2x mengundang. Semoga ada yang bisa diambil dari sharing kita ya...
PPA Sumowono 
 Pertama kali ke kantor matul. Niatnya mau ngerjain eh malah dkkerjain balik. Suruh nyoba masuk bui...hahahahahaa


Di 2018 juga ada keluarga baru yang tiap hari meramaikan suasana rumah. Indah dan Prita. Mbak Dah kembali merawat ibu sejak 3 bulan yang lalu. Semoga bisa sedikit memberikan penghiburan pada Bapak yang selalu merindukan cucu cucu nya.
Dan di bulan Oktober 2018 dipercaya membantu klinik dekat rumah. Belum berani mengatakan bekerja, baru sebatas membantu dalam memotivasi karyawan yang ada di sana. Semoga ke depan akan lebih jelas job desk nya.


Acara pedible memperingati hari difable sedunia juga menjadi pengalaman spesialku. Sebab tidak hanya sebagai penjual kripop tapi berkat keisengan ku ngutik puisi yang berubah jadi lagu dan dibantu komposer dadakan Widi dan Irul, kamsia broo...! Jangan kapok tak repotin lagi ya.






Oiya, ultahku di 2018 ini juga seru kok...seruuu bgt, sampai keluarga gobooks ngambek karna skenarionya gatot alias gagal total di part 1. Part 2nya katanya sih berhasil dg ngepyuki tepung. Tapi aku juga udah punya feeling bakal ada drama kelanjutannya. Hahahahaaa..
Inga' inga' mata hatiku bisa merasakan yg kalian sembunyikan. #horor


050518


sebagian moment kegiatan akhir semester gobooks. Pertemuan rutin gobooks. Bagi bagi takjil

kegiatan akhir semester









Pertemuan tak terduga yaa


Setelah sekian lama akhirnya kesampaian juga mengikuti kelas bahasa isyarat. Menambah ilmu biar tidak belagu.



Sebagian moment menyenangkan selama 2018. Lalu bagaimana dengan moment sebaliknya?
di postingan selanjutnya akan aku share.