Selasa, 28 Mei 2013
KAMU (part19)
Ku di sini termenung sendiri
Menatap tirai keraguan akan tanya yang tersamar
Ku di sini tertahan hujan
Menatap derai kerinduan yang mengalir dengan rintiknya
Minggu, 19 Mei 2013
KAMU (part18)
Ternyata aku takut…
Aku takut menjauhimu
Aku takut kamu semakin menjauh
Ya…sepertinya aku takut…sangat takut…
Bahkan aku takut untuk merindukanmu
Aku takut memikirkanmu
Aku takut pada bayangan di depan cermin ini
Aku takut pada diriku sendiri
Aku takut…
Aku takut untuk kehilanganmu.
180513
KAMU (part17)
Masih…
Masih sama, seperti kemarin
Resahku menderu biru…
Sejengkal demi sejengkal kupotong ingatanku
Agar resahku tak menusuk menembus sudut tersulitku
Sebilah pikiran ku patri di luar keraguanku
Agar tanyaku tak menghujam tiap hela nafas terdalamku
Namun, masih saja…
Masih…
Aku mau kamu tahu…
Aku menjagamu, menjaga hatimu
Dengan terus berusaha menepati apa inginmu
“I will try” dan “I will do”
Agar terjaga selamanya…itu katamu…
Aku tak pernah sedetikpun melupakannya
Dan aku tak pernah sekalipun tak berusaha mengiyakannya
Namun seringkali aku tak punya daya
Aku tak bisa untuk tidak mempedulikanmu
Aku tak bisa untuk tak melihatmu
Kamu…maafkan aku…
Jika rasaku masih menutupi kedua mata hatiku
Tapi, aku pastikan satu hal…
Aku tak akan pernah pergi menghilang, ataupun bersembunyi dibalik nyata yg sesungguhnya
180513
KAMU (part16)
Ada tanya menyeruak seketika
“Siapa dia?”
Hasrat tertahan sebuah realita, nyata
“Diakah sekarang?”
Ingin hati mendamba biasa
Masihkah kiranya tak mengapa menantikanmu?
Masihkah kiranya tahu diriku memenangkannya?
Bukan untuk mencerca, bukan jua menilaimu
Sekedar hati bertukar kisah barumu
Sebatas tahu akan menjadi penawar resahku
“Hai kamu…bolehkah aku tahu?”
Tanya ini kutelan perlahan
Terbius oleh nyata yang terlalu takut akan sebuah
penolakanmu
“Ada apa ini? Mengapa kelu menghimpitku?”
Aku tak mau begini
Aku ingin bukan seperti ini
Aku ingin kembali nyaman dalam kisah rahasia itu
Hilangkan keterasingan ini
Kamu…kamu…kamu….
Aku tercekat oleh nyata itu
Nyata yg terucap dari kita, oleh kita
Haruskah aku menepi lalu pergi dengan sebungkus tanya yang
mengerasi hati?
Haruskah aku berlalu tanpa peduli bayang hatimu masih
membekas dalam duri?
Ataukah aku harus kembali bertahan bersama resah tanya ini?
Ahh…sulitku menanyakan hatimu yang telah membungkam logikaku
Hingga kata-kata sederhanapun menguap tiada jejak tiada rupa…
“Itu siapa?”
180513
Langganan:
Postingan (Atom)

